Dilema Liverpool, Taktik Klopp, Kehilangan van Dijk dan Adaptasi Fabinho

Dilema Liverpool, Taktik Klopp, Kehilangan van Dijk dan Adaptasi Fabinho

Sempat unggul lebih dulu, Liverpool Kembali mengalami kekalahan dan langsung terhenti langkahnya pada laga putaran keempat Piala FA di Old Trafford, Senin (25/1) dini hari WIB.

Di laga ini, The Reds unggu lebih dulu oleh gol yang dibuat Moh. Salah. Namun, tiga gol berhasil disarangkan tuan rumah lewat Mason Greenwood, Marcus Rashford dan Bruno Fernandes setelah Salah mencetak gol keduanya. 

Kembali menelan kekalahan dan terhenti langkahnya di piala FA. Ya, Kembali menelan kekalahan. Sebelumnya Liverpool kalah dari Burnley 1-0. Menarik bila melihat kiprah Liverpool musim ini, jauh dari yang diharapkan dan diprediksi banyak orang. Performa di Premier League tidak begitu buruk sepertinya mengingat saat ini masih berada di peringkat 4 klasemen sementara dan hanya terpaut 6 poin dari pemuncak klasemen, Manchester City.

Dengan 9 kemenangan, 7 hasil seri, dan 3 kali mengalami kekalahan, dan masih melakukan 19 pertandingan, tentu ini menjadi was was para pendukung Liverpool yang ingin Kembali meraih juara Premier League demi menyalip torehan musuh bebuyutan (Setan Merah).

Bandingkan dengan torehan musim lalu dengan 32 Menang, 3 Seri, dan 3 kalah. Tentunya sangat jauh dari harapan para fans. Mengapa bisa menurun performanya? Padahal sudah memboyong Diogo jota, Thiago, dan Tsimikas. Namun, hanya Jota berhasil bersinar dari awal musim, sedangkanĀ  Thiago masih belum menemukan ritme terbaiknya, Tsimikas saat ini masih belum dipercaya bermain hingga saat ini.

Yang paling mengejutkan Ketika dibantai 2-7 oleh Aston Villa, minus Alisson dari squad juara musim lalu, menguasai penguasaan bola, tetap tidak mampu memberi perlawanan berarti. Kemudian seri 2-2 dengan everton, dengan skuad yang hamir sama dengan lawan Villa, dan menguasai penguasaan bola. Selanjutnya imbang dengan Manchester City, dengan kekuatan pemain dan permainan lawan, hasil seri tidak mengagetkan, ditambah dengan absennya Van Dijk karena cedera.

Imbang dengan brighton dan Fulham masing masing  dengan skor sama 1-1 yang menambah hasil buruk musim ini. Petaka mulai setelah membantai Palace dengan 7-0, Liverpool belum memenangi pertandingan hingga saat ini dan belum mencetak gol dalam 4 pertandingan setelah imbang dengan west brom 1-1.

Permasalahan datang Ketika cidera Van Dijk. Absennya van dijk membuat koordinasi lini pertahanan goyah. Meskipun menguasai pertandingan, lawan mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Joel matip dan Joe Gomez belum mampu mengganti peran van dijk. Pun Ketika Joe Gomez absen, Fabinho yang seorang gelandang bertahan ditarik mundur untuk mengawal pertahanan.

Ditariknya Fabinho ke belakang, aliran serangan balik cepat lawan tidak mampu putus di tengah lapangan, sehingga lawan mampu berkreasi dengan cepat di pertahanan sendiri. Menjadi seorang bek tengah dengan seorang anchor tentu sangat berbeda. Pemain lain yang didapuk sebagai pengganti Fabinho di tengah lapangan juga belum mampu seefektif dirinya dalam memutus aliran bola lawan.

Masalah di lini tengah belum usai, selain mundur fabinho ke garis pertahanan, tidak banyak perubahan yang terjadi dengan musim lalu. Dengan bergabungnya Thiago, seharusnya kreasi lini tengah dan balance nya serangan dan pertahanan menjadi lebih kuat. Namun kenyataannya Wijnaldum, Minamino, Chamberlain juga belum mampu menjadi pelayan setia lini depan.

Jika bicara mengenai lini depan, semua membicarakan hal ini, karena tugas pencetak gol adalah lini depan. Trio Firmansah sering tampil dalam line up dengan perpaduan masuknya Diogo Jota dan bisa dimasukkannya sang supersub musim lalu, Divock Origi.

Tapi hasilnya adalah 4 pertandingan terakhir liga nirgol. Dari 4 pertandingan tersebut  sebenarnya Liverpool berhasil melepas tembakan dengan jumlah 2 digit di setiap pertandingannya, namun yang mengenai target kurang dari 5 tendangan. Nampaknya kualitas finishing dari para penyerang dipertanyakan. Namun bagi kami, bukan hanya hal tersebut menjadi penyebab rentetan hasil buruk.

Selain itu ada hal lain yang menjadi biang, diantaranya adalah permainan yang sudah terbaca lawan, sehingga lawan mampu mengatasi dengan bertahan dan serangan balik cepat. Gegenpressing yang di populerkan Klopp tidak berjalan musim ini dikarenakan hal tersebut.

Sudah terbaca lawan. Sama seperti halnya permainan tiki taka Barcelona yang superior medio 2010/11, hancur lebur di musim selanjutnya. Minimnya kreasi taktik dari Klopp setelah sukses di musim sebelumnya membuat Liverpool terseok. Betul, membangun taktik baru tidak bisa instan, toh Klopp juga membangun gengen pressing Liverpool dalam waktu 4 tahun.

Namun tentu taktik yang sama tidak berlaku dalam lebih dari 2 musim, karena lawan punya tim Analisa taktik yang mampu menemukan celah permainan Liverpool. Bukan tidak mungkin Liverpool akan keluarh dari 4 besar apabila tidak ada perubahan yang terjadi.

Banyak hal yang harus diperbaiki dari Liverpool adalah tentunya kreasi permainan. Mereka harus cepat beradaptasi dengan cepat dengan taktik  baru dan cepat mengantisipasi taktik lawan. Alur serangan sudah monoton dan support dari lini ke 2 belum maksimal.

 Pada jendela transfer ini harus mendatangkan pemain tengah pemutus serangan dengan mundurnya Fabinho. Atau mendatangkan bek tengah sekaliber van dijk yang absen Panjang. Isu yang paling santer diberitakan adalan Upamecano.

Sejatinya bukan pilihan buruk mendatangkannya, namun belum bisa disejajarkan kualitas Upmecano dengan van Dijk. Apalagi saingan mendapatkan bek RB Leipzig ini sangat berat mengingat city dan munich juga menginginkannya.

Satu nama yang bisa mendekati van Dijk adalah Koulibaly. Memang sulit mendapatkannya, namun apabila mampu bergabung, Liverpool bisa Kembali mencapai banyak clean sheet.

Klopp harus banyak berbenah demi mengamankan persaingan top 4 liga bahkan juara dan melaju kencang di Champions League.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image