Cesar Luis Menotti dan Carlo Bilardo. : 2 Antitesis Pemberi Gelar Piala Dunia Bagi Argentina

Cesar Luis Menotti dan Carlo Bilardo. : 2 Antitesis Pemberi Gelar Piala Dunia Bagi Argentina

Di Argentina, 2 pemikiran memberikan jarak yang lebar antara Peronistas dan Antiperonistas, keduanya baik air dan api dalam kehidupan bernegara di Argentina, hingga hari ini, pun di sepak bola, perbedaan serupa terjadi.

Sepak bola negeri Tango terpisah jurang mengenai identitas dan cara bermain : Menottismo milik Cesar Luis Menotti, menghadapi Bilardismo milik Carlo Bilardo.

Meskipun memiliki perbedaan yang cukup jauh, baik Menottismo dan Bilardismo, sama – sama memberikan gelar Juara Piala Dunia, Menotti pada tahun 1978 sedangkan Bilardismo pada 1986. Dan keduanya juga menghadapi kesulitan karena ulah dari megabintang Argentina, Diego Maradona.

Cesar Luis Menotti adalah sosok liberal sayap kiri, dia tidak segan menguatarakan apa yang menjadi pemikirannya, pria cerdas yang sangat menentang kekuasaan Junta Militer Argentina yang berkuasa saat itu. Pemikirannya yang progresif membuatnya sangat menentang Anti-Futbol yang kala itu Berjaya di Argentina.

Anti-Futbol adalah buah pikiran pelatih Estudiantes, Osvaldo Zubeldia, ia sukses menyulap Estudiantes mematahkan dominasi Grandes  (Boca Juniors, Independiente, Racing, River Plate dan San Lorenzo) pada medio 60-an. Sepak bola saat itu, dianggap sebagai permainan pragmatis, dan melegalkan segala cara untuk mengemas kemenangan.

Bagi Menotti, dan Menottismo yang dianutnya, sepak bola merupakan permainan yang menghibur, menyerang adalah jalan satu-satunya, hasil akhir berupa kemenangan bukanlah yang utama,  bermain atraktif adalah tujuan utama dalam bermain sepak bola.

Ada romantisme yang cukup kuat dalam sepak bola ala Menotti, kecintaannya kepada hal yang estetis dan atraktif tercermin bukan hanya dari caranya meramu tim, gayanya di pinggir lapanganpun demikian : rambut tersisir ke belakang, sosok bohemian, dengan rokok di tangan kanannya, cara bicaranya yang tenang tetapi dengan diksi berapi-api.

“Anda bisa kalah dalam sebuah pertandingan, tetapi anda tidak bisa kehilangan gairah untuk bermain sepak bola atraktif dan indah,” ucapan Menotti yang termahsyur. Formasi 4-3-3 menjadi kiblat dan senjata utamanya di lapangan.

Sebaliknya, Bilardismo milik Carlo Bilardo, adalah cerminan sepak bola pragmatis milik Osvaldo Zubeldia, anti-futbol menurutnya adalah kiblat dan cerminan terbaik dari sepak bola Argentina, kemenangan adalah satu-satunya cara dan tujuan bermain sepak bola, dengan kerja keras dan disiplin di atas lapangan menjadi kuncinya.

Sosok Bilardo juga cukup eksentrik, mirip dengan Diego Simeone, rambut panjang rapi dengan tampilan anti-hero di pinggir lapangan, baginya sepak bola adalah kerja keras dan penuh dengan permainan fisik untuk meraih kemenangan. Ia tidak segan meminta pemainnya untuk bermain keras dengan disiplin taktik selama 90 menit.

3-5-2 adalah pakem andalan Bilardo, 3 bek ditambah satu libero adalah kuncinya dalam meracik strategi, persiapan menjelang laga adalah segalanya, dan tidak peduli bagaimana terciptanya gol dan jalannya pertandingan, kemenangan adalah hal yang wajib diraih.

Piala Dunia, Diego Maradona dan Junta Militer  

Menariknya, baik Menotti dan Bilardo juga membawa sepak bola Argentina digdaya di situasi politik yang memanas : Menotti yang sangat anti Junta, membawa Argentina juara pada 1978 sedangkan Bilardo yang pro militer juara di era pertama demokrasi Argentina.

Menotti datang sebagai pelatih timnas Argentina dengan beban yang tidak mudah : Argentina adalah tuan rumah Piala Dunia 1978, dan pada edisi 1974 mereka tidak lolos, ditambah lagi, Negara tetangga sekaligus 2 rival Argentina, Brasil dan Uruguay, jauh lebih berkembang. Brasil menjadi juara dunia di medio 70-an, sedangkan Uruguay adalah raja di Copa America.

Dari dalam Negeri, kekuatan Junta Militer sangat berkuasa, namun juga mendapatkan banyak tentangan. Dipimpin Jorge Rafael Videla, penculikan dan penyiksaan warga sipil adalah hal yang sering terjadi.

Tekanan besar datang untuk Menotti, datang usai membawa Huracan menjadi juara Metropolitano pada 1973, Junta berharap, Menotti mampu mengaburkan perhatian publik akan kasus-kasus kekerasan dan penculikan era rezim militer di Argentina.

Situasi politik yang memanas nyaris membuat Argentina batal menjadi tuan rumah, beruntung FIFA menganggap Argentina cukup aman untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978. Menotti paham tekanan besar tersebut, ia memilih pemain berdasarkan zonasi yang ia buat, ada 6 zonasi yang dibuatnya.

Menotti juga sangat menentang ide bahwa sepak bola harus berkiblat ke Eropa, menurutnya, Argentina punya cara sendiri untuk bermain dan identitas yang eksklusif.

“Kami harus menyingkirkan gagasan bahwa untuk menang, kami harus bermain dengan cara Eropa. Itu adalah konsep yang salah, berpikir bahwa kami tidak akan melakukannya, kami memiliki kemampuan teknis dan bisa mengatasi cara bermain menghadapi mereka.”

Argentina menunjukkan permainan atraktif dan penuh pace, dimotori Mario Kempes, Daniel Passarella, Leopoldo Lique, Ubaldo Filol hingga Osvaldo Ardiles. Gelar juara Piala Dunia 1978 berhasil direngkuh, Buenos Aires berpesta, sorak-sorai tercipta di seluruh penjuru, tahanan militer diberikan izin untuk turun ke jalan dengan penjagaan ketat ketika dwi gol Kempes dan satu gol Danile Bertoni, sukses menundukkan Belanda dengan skor 3-1 di final.

Sepak bola Argentina berubah menjadi atraktif, namun hanya sesaat, kegagalan total Argentina di Piala Dunia 1982 menjadi alasannya, mereka tersingkir di babak perempat final dengan sistem fase grup, kalah bersaing dengan Italia dan Brasil, Menotti kemudian mengundurkan diri, dan hanya 3 orang dari skuat Piala Dunia 1978 dan 1982 yang masih mendapatkan kesempatan membela Argentina di kemudian hari.

Kritik kemudian menyeruak, sepak bola atraktif sangatlah tidak pas digunakan di Argentina, bersamaan dengan itu, Estudiantes sukses mengejutkan dengan menjadi juara Metropolitano pada 1982, kemenangan biner 1-0, 0-2 hingga 1-1 adalah hal yang bisa bagi Estudiantes, prestasi itulah yang membawa Bilardo menjadi pelatih Argentina pada 1983.

Hingga hari ini, Timnas Argentina di bawah Bilardo adalah tim dengan rasio kemenangan terendah Argentina selama diasuh Bilardo pada 1983-1990,tetapi itu bukanlah persoalan alasannya : Kehadiran Diego Maradona.

Maradona sejatinya sudah memperkuat Argentina pada 1976 di bawah asuhan Menotti, tetapi urung masuk dalam skuat yang disiapkan untuk Piala Dunia 1978. Menurut Menotti, kehadiran Maradona akan merusak keharmonisan dalam tim, pun Argentina sudah diperkuat kempes dan Luque, sehingga tidak ada tempat bagi Maradona.

Menuju Piala Dunia 1986, Bilardo yang merupakan pelatih dengan permainan defensif nan monoton mendapatkan kritik pedas usai membuat Maradona sebagai kapten, pasalnya, Maradona bukanlah sosok yang baik kala itu.

Maradona berkembang di usia muda, membela Argentinos Junior sebelum ke Boca Junior, kontroversi akan nilai gaji dan tingkahnya di luar lapangan adalah hal yang membuat citranya buruk. Pun ketika hengkang ke Barcelona, tingkahnya semakin liar dengan kecanduan kokain. Tendangan ke arah wajah Miguel Ángel Sola kala Barcelona menghadapi Athletic Bilbao, membuatnya kemudian dijual ke Napoli.

Tingkah Maradona membuat warga Argentina tidak simpatik, ditambah lagi usai berseteru dengan Daniel Pasarella, Bilardo dan Maradona dalam tekanan besar. Pertandingan perdana menghadapi Korea Selatan menurut Maradona dalam biografinya “Disaksikan warga Argentina dengan mata setengah terpejam.”

Tetapi, apa yang dilakukan Bilardo sepadan, Argentina memang tidak bermain atraktif, tetapi disiplin tinggi yang diperagakan dalam skema 3-5-2, membuat Argentina digdaya. Kemenangan yang paling dikenang, tentu ketika aksi individu Maradona melewati 6 pemain Inggris, sebelum menceploskan bola ke gawang kosong, ditambah dengan gol tangan tuhan milik legenda Argentina ini.

Menghadapi Jerman di Final, Argentina juga sukses mengemas kemenangan 3-2, Jerman Barat yang dimotori oleh Karl-Heinz Rummenigge, baru bisa mencetak gol pada menit ke 74 disusul Rudi Voller pada menit ke-82, disiplinnya pertahanan Argentina menjadi factor sulitnya mencetak gol ke gawang Nery Pumpido.

Argentina menjadi juara dunia dengan Diego Maradona mengemas 5 gol, bukan hanya itu, Jorge Valdano yang mengemas 4 gol dan juga Burruchaga dengan 2 gol menjadi pahlawan di Argentina. Pesta tak terelakkan, dan Negara yang sedang mengalami inflasi sebesar 400 persen usai transisi dari junta ke pemerintahan demokratis, bersuka cita seolah tidak terjadi apapun di Negara mereka.

Uniknya, ada satu foto ikonik di mana wajah Bilardo menahan amarah usai peluit panjang dibunyikan, alasannya : Argentina kebobolan 2 gol dari skema yang sama, dan Bilardo sudah meminta para pemain Argentina mengantisipasi skema sepak pojok Jerman. Tetapi apapun itu, Bilardo dianggap sebagai pahlawan dan sukses memberikan gelar Juara Dunia.

Bilardo kemudian lengser pada 1990, hasil buruk di Italia usai kalah dari Jerman Barat di final membuatnya digantikan Alfio Basile.

Keduanya juga memiliki penerus nan saling mengkritik, Jorge Sampaoli yang mengamini paham Menotti, dan Diego Simeone yang berkiblat ke Bilardo. Baik Sampaoli dan Simeone selalu melempar kritik, pun Menotti akan membela Sampaoli dan Bilardo akan melindungi Simeone.

Baik Menottismo dan Bilardismo, tetap memiliki pengaruh besar di sepak bola Argentina, perbedaan taktik nan mencolok, membuat sepak bola Argentina melahirkan banyak pemain dengan ragam cara bermain. Keduanya pun tidak sependapat untuk Diego Maradona, tetapi, sama seperti Peronistas dan Antiperonistas, idealisme dan pemikiran akan selalu menjadi karakter yang tak terpisahkan dalam diri manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image