Pemecatan Bukanlah Degradasi Kualitas Jose Mourinho

Pemecatan Bukanlah Degradasi Kualitas Jose Mourinho

Jose Mourinho mengakhiri masa baktinya Bersama klub London Utara, Tottenham Hotspur. Kontraknya diputus usai rangkaian hasil buruk yang ditelan The Liliywhites, yang paling monumental, adalah kekalahan kendang dari Manchester United dengan skor 1-3.

Ini adalah kali pertama pria asal Portugal ini nir gelar selama menjadi pelatih, sebelumnya setidaknya satu gelar diberikan oleh The Special One selama karirnya. Terakhir, Manchester United menjadi juara European League pada tahun 2018.

Yang tentu menarik, adalah kemana seorang Jose Mourinho akan melanjutkan karirnya?

14 tahun karir Manajerialnya, ia hanya sekali memiliki jeda panjang sebagai pelatih, yakni kala kontraknya Bersama Real Madrid berakhir.

Mulai dari Uniao de Leiria ke Porto pada tahun 2002, ia langsung ke Chelsea pada 2004, dan ke Inter Milan sebelum ke Real Madrid pada 2010, kemudian Kembali ke Chelsea pada 2013.

Pemecatannya ke Tottenham bukanlah hal yang mengejutkan, meski demikian catatnnya Bersama Spurs musim ini cukup apik. Tottenham sempat merajai klasemen Premier League pada Desember, sebelum performa mereka menurun, Spurs berada di peringkat 7 klasemen dengan jarak 5 poin dari peringkat ke-4.

Situasi ini, bukanlah hal baru bagi Mourinho, bahkan selalu diiringi 3 hal : keretakan dengan pemain, hasil buruk di Januari, dan pernyataan kontroversial. Tapi uniknya, meski selelalu memiliki masalah di ruang ganti, semua pemain akan memasang tembok tebal untuk melindungi sang Manajer.

25 trofi sudah diberikan kepada klub-klub yang ditanganinya, 2 gelar Liga Champions diberikan, 6 gelar domestik dan tentu saja treble winners yang legendaris milik Inter Milan pada 2010.

Jose Mourinho tetaplah pelatih berkualitas dengan segudang caranya baik di dalam maupun di luar lapangan, Mourinho akan selalu memberikan hasil-hasil yang positif, meskipun cara bermainnya sangat dikritik karena terkesan defensive dan monoton.

Ketika Materazzi diwawancara oleh Gazzetta dello Sport beberapa tahun lalu untuk merangkum kualitas yang membuat Mourinho menjadi salah satu pelatih terhebat, dia menyebutkan lima faktor: motivasi, kepintaran, pengetahuan, pengalaman, dan empati. 

Yang menarik adalah Ketika Materazzi menyingung masalah empati, “kondisi yang mutlak diperlukan untuk membangun kelompok yang kuat, yang bersatu dan tidak retak. Itu adalah hal pertama yang dia cari bersama timnya. Itulah yang membuat Anda bertarung melawan segalanya dan semua orang untuknya. “

Siapa pun yang melihat tim Porto-nya, tim Chelsea pertamanya, dan tim Inter-nya pasti tahu apa yang dibicarakan Materazzi. Bahkan , tim Real-nya juga memilikinya.

Real Madrid saat itu diisi pemain papan atas, mulai dari Ronaldo, Benzema, di Maria, Ozil hingga Sergio Ramos, sulit membayangkan bagaimana seorang Mourinho bisa mengontrol ego satu tim dengan banyaknya pemain bintang yang dimiliki.

Namun, semua pemain Bersatu dan memasang badan apapun yang terjadi di lapangan, meskipun Barcelona sangat dominan saat itu, tetapi Real Madrid era Mourinho adalah tim yang sangat subur, mereka seperti mesin dengan bensin penuh di belakangnya, meskipun kalah kreatif dibandingkan Barcelona,  dalam setiap tiga musimnya di Real mereka mencetak lebih dari 100 gol di La Liga. 

Dalam kampanye perebutan gelar 2011-12 itu, mereka mencetak 121 gol dan memenangkan 100 poin. Keduanya masih rekor (yang terakhir disamai oleh Barcelona pada musim berikutnya).

Sejak memimpin Inter ke Liga Champions pada 2010, trofi ke-17 dalam delapan tahun, Mourinho telah memenangkan delapan trofi dalam 11 tahun. 

Bersama Real Madrid, ia memenangkan La Liga, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Kedua kalinya di Chelsea ada gelar Premier League dan Piala Liga di tahun kedua sebelum performa The Blues menurun drastis dan membuatnya didepak. 

Di Manchester United ada Community Shield, Piala EFL dan Liga Europa sebelum semuanya berubah menjadi bencana pada musim ketiganya. Namun, dengan pencapaian yang dimiliki dan dengan standar hampir semua pelatih dalam olahraga ini, delapan trofi dalam 11 tahun mewakili pencapaian yang luar biasa. 

Namun, menurut standar Mourinho, ini adalah penurunan yang mengganggu.

Membahas Mourinho, tentu tidak akan lepas dari persaingannya dengan Pep Guardiola,

Pada akhir musim 2016-17, Mourinho memiliki 25 trofi dan Guardiola 21. Sekarang 29-25 Guardiola unggul, dan mencapai 30 di Wembley usai mengalahkan Spurs yang ditangani Ryan Mason.

Dan persaingannya dengan Pep Guardiola adalah salah satu daya Tarik sepakbola dalam 2 dekade terakhir.

Guardiola memberikan gambaran mengenai kebebasan bermain, bak melukis di sebuah kanvas, hasil akhir berupa kemenangan adalah keindahan antara banyak campuran warna dan nilai estetika di tengah lapangan adalah mahakarya pelatih plontos ini.

Sedangkan Mourinho percaya, setiap tim harus memiliki disiplin tinggi, efektifitas dan nilai disiplin di tiap laga untuk mendapatkan kemenangan, apapun dilakukan demi tiga angka, nilai structural di lapangan jauh lebih penting dibandingkan estetika.

Mou vs Guardiola sudah dimulai sejak pertemuan Inter Milan dan Barcelona, tentu tidak akan ada yang melupakan pertandingan dengan drama letusan gunung Eyjafjallajökull, diving Busquets, kartu merah Motta, skema 8-1 inter Milan dan Mourinho yang berlari ke tengah camp nou. 

Di Real Madrid persaingan makin memanas ucapan selamat datang ke Spanyol berupa hasil 5-0 untuk keunggulan Barcelona membuat Mou sangat tercoreng, dominasi Barcelona dan Pep Guardiola terus berlanjut hingga Mou hengkang dari Spanyol.

Ketika mou melatih Manchester United dan Pep Melaih Manchester City, persaingan yang diharapkan memanas, ternyata cukup redam pasalnya, United dirundung banyak masalah internal yang berujung kepada Ed Woodward.

Sulit membayangkan Mourinho Kembali ke Premier League dalam waktu dekat kecuali, misalnya, agennya Jorge Mendes melamarnya sebagai orang untuk melanjutkan pekerjaan Nuno Espirito Santo di Wolverhampton Wanderers.

Namun, Mourinho adalah sosok dengan filosofi yang jelas dengan pengertian dan pemahaman yang sangat rinci di lapangan, klub-klub seperti  Valencia, Sevilla, Napoli, Roma atau, tentu saja, Porto, di mana dia dihormati sampai hari ini, tentu akan sangat tertarik dengan profilnya. 

Atau Benfica sebagai destinasi berikutnya? Mengingat Mourinho pernah menangani tim ini hanya dalam waktu 2 hari sebelum dipecat.

Yang pasti, menangani tim China bukanlah opsi, Mourinho menolak tawaran besar dari Guangzhou Evergrande terakhir kali dia keluar dari pekerjaannya. Celtic? Sulit membayangkannya menangani tim yang liganya bahkan tidak kompetitif, MLS? Sangat mungkin tapi tidak saat ini.

Mourinho telah berbicara berkali-kali tentang bagaimana dia ingin, suatu hari, melatih di tingkat internasional. “Saya ingin memiliki pengalaman Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa,” katanya September lalu, “emosi kompetisi singkat.”

Dia telah menyarankan sebelumnya bahwa melatih Portugal akan menjadi mimpi di satu sisi, tetapi akan “sangat sulit untuk melakukannya dengan negara tempat Anda dilahirkan”. Ide itu menjadi lebih menantang ketika Anda mempertimbangkan bahwa Portugal memenangkan Euro 2016 di bawah Fernando Santos (yang masih terikat kontrak hingga 2024) dan bahwa Cristiano Ronaldo berusia 36. Tentu tidak mudah bagi Pelatih Portugal setelahnya menyamai catatan gelar juara tersebut.

Apapun keputusan yang diambil Mourinho dan betapa kontroversialnya sosoknya, ia tetaplah Manajer papan atas dengan filosofi permainan yang ada di kepalanya, melihat sepakbola secara struktural, melihat para pemainnya sebagai manusia, menggabungkan keduanya sebagai sesuatu yang emosional di bawah satu nama “The Special One”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image