Thomas N’Kono dan Joseph-Antoine Bell, Persaingan Terbaik Kiper Afrika Sepanjang Sejarah

Thomas N’Kono dan Joseph-Antoine Bell, Persaingan Terbaik Kiper Afrika Sepanjang Sejarah

Stereotype selalu terjadi di sepak bola, akan selalu menemukan gelandang elegan dengan umpan matang di daerah Hispanic, atau Penyerang tinggi dengan keahlian duel udara di Inggris, hingga talenta penuh trik dan aksi dari Amerika Latin.

Jika menyebut Negara Afrika, akan selalu lekat dengan pemain cepat, unggul dalam duel fisik dan juga handal dalam menjaga bola. Mulai dari Toure bersaudara, Taribo West,  hingga George Weah.

Namun, Medio 70-an, dua penjaga gawang Kamerun saling unjuk gigi kepada dunia, menunjukkan siapa yang terbaik : Thomas NKono dan Joseph-Antoine Bell.

Keduanya memiliki banyak perbedaan, mulai dari cara bermain, pemahaman akan ruang dan penempatan posisi, hingga mengatur rekannya di lapangan. Keduanya tidak segan saling bersitegang di timnas, bahkan di level klub, Ketika keduanya bertemu, akan tersaji penyelamatan papan atas yang mengundang decak kagum.

Latar belakang kehidupan yang berbeda, menjadi faktor besar, bagaimana dua Kiper yang bersaing menjadi kiper utama Kamerun ini mengembangkan gaya bermain, pilihan karir, hingga pemahamannya mengenai posisi penjaga gawang. Namun, keduanya tetaplah memberikan pengaruh besar di bawah mistar hingga hari ini.

Joseph-Antoine Bell, lahir pada Oktober 1954, di sebuah distrik menengah atas bernama Nkongmondo, Douala. Latar belakang yang berasal dari keluarga yang mapan, membuatnya mampu menempuh pendidikan yang sangat mewah kala itu.

Bell, menganggap posisi penjaga gawang penuh dengan tanggung jawab, sesuatu yang menantangnya, hingga di usia 19 tahun, ia memilih menjadi kiper untuk Union Douala.

Sedangkan Thomas N’Kono lebih muda 2 tahun dari Bell, lahir dengan latar belakang keluarga miskin di desa kecil barat danau Ossa, Kamerun. N’Kono hidup Bersama saudara perempuannya.

N’Kono memulai karirnya di klub amatir daerahnya sebagai gelandang, hingga penyerang, talentanya mulai terendus, hingga akhirnya diboyong oleh klub asal Douala, Éclair.

Keduanya memiliki perbedaan sejak awal, Bell adalah sosok yang percaya diri di bawah mistar, ia tidak segan untuk beradu argumen di dalam lapangan atau bersitegang dengan pelatih di ruang ganti. Sesuatu yang berakibat buruk untuk karirnya di Tim Nasional.

Sedangkan Thomas N’Kono adalah adalah antithesis dari Bell, sosoknya sangat pendiam, lebih tertutup dan tidak terlalu suka bersosialisasi dengan rekan-rekannya, hal inilah yang memaksanya menjadi kiper pada akhirnya.

Penjaga gawang era itu, bukanlah posisi yang diminati, memang banyak kiper dengan nama tenar pada medio 70-an, mulai dari Gordon Banks, Ladislao Mazurkiewicz hingga Vladimir Beara. Nama terakhir, akan menjadi sosok vital dari persaingan N’Kono dan Bell.

Bell, mulai mencintai posisi penjaga gawang, Ketika bermain Bersama rekan sekolahnya. Saat itu, tidak ada satupun menginginkan posisi kiper, wajar saja, di bawah mistar tidak akan satupun tugas membangun serangan atau bermain dengan bola. Bell mengubah stigma itu, Ketika aturan back-pass diperkenalkan pada 1992, Bell menyambut baik, menurutnya, penjaga gawang memang seharusnya bisa memainkan bola alih-alih hanya menangkap bola dan mengulur waktu.

Sedangkan N’Kono, dibawa Éclair Douala sebagai penyerang, pribadinya yang sangat pendiam membuatnya dipandang sebelah mata, tidak terkecuali sang Presiden klub. Kala itu, sang Presiden melihat N’Kono sebagai sosok yang tidak terlalu apik, dengan latar belakang yang juga meragukan, N’kono kemudian diminta untuk bermain di posisi penjaga gawang, yang sejatinya merupakan bentuk hinaan, bahwa dirinya tidak akan pernah memenuhi kriteria sebagai pesepakbola professional.

Di luar dugaan, N’Kono tampil apik, dan membuktikan bahwa dirinya memiliki talenta di bawah mistar, refleknya di bawah mistar, namun kekurangannya ada pada ketidak mampuannya mengkoordinasi lini belakang, akhirnya posisi kiper Éclair Douala resmi menjadi miliknya pada 1973.

Éclair Douala di tahun yang sama menembus Semifinal Piala Liga, menghadapi tim Canon Yaounde, salah satu tim terkuat bukan hanya di Kamerun, tetapi juga di Afrika. Pertandingan digelar leg pertama digelar di Douala, dibatalkan karena ulah Presiden Éclair yang ditolak masuk ke lapangan. Hingga akhirnya diambil kesimpulan menghapus leg pertama dan langsung leg kedua yang digelar di Yaounde.

Pertandingan inilah yang menjadi titik balik N’Kono, di pertandingan yang berkesudahan 1-0 untuk kemenangan Canon, N’Kono membuat semua orang bertanya mengenai sosoknya.

N’Kono sangat tenang di bawah mistar, hingga membuat pemain Canon tidak percaya diri. Bahkan N’Kono menangkap satu penalty yang dieksekusi bek Canon, Jean-Paul Akono, bola bukan hanya ditangkap, namun menurut Akono, ditangkap seolah ‘hanya seperti bola backpass’.

Canon akhirnya memutuskan merekrut N’Kono, namun masalah tidak selesai, Douala bukanlah kota yang ramah, terror dan baku tembak adalah hal yang biasa. Ketika N’Kono memutuskan hengkang ke Douala, Presiden Éclair mendapatkan ancaman mati dari supporter. N’Kono akhirnya berhasil hengkang setelahnya usai éclair terdegradasi di Liga.

Namun, pindah ke Canon bukan hal yang mudah, ia bersaing dengan kiper utama, Matuka. Keduanya dirotasi dengan cara memainkan keduanya per-dua laga.

Hingga akhirnya pada laga krusial menghadapi Dinamos Yaounde, Matuka bermain sangat buruk dan kebobolan 4 gol. Pelatih akhirnya menarik Mutaka dan memasukkan N’Kono, Ia bermain luar biasa dengan melakukan beberapa penyelamatan sebelum akhirnya Canon sukses menyamakan kedudukan dan lolos dari fase grup.

Sebaliknya, Bell, lebih mapan, sejak memulai karir professionalnya, ia memperkuat tim papan atas Afrika dan Asia seperti Africa sport dan Al Mokawloon Al Arab, sebelum akhirnya hengkang dan merumput di Prancis. Bell memperkuat Marsille, Toulon, Bordeaux hingga Saint Etienne.

Keduanya juga masuk Timnas Kamerun di era yang sama, tepatnya pada era 70-an, persaingan panas secara prestasi, membuat dilemma siapapun yang memiliki penjaga gawang dengan kualitas setara nan merata, tapi tidak dengan satu nama : Vladimir Beara.

Beara adalah penjaga gawang Yugoslavia era 50-an, julukanya Slavic Yashin, karena cara bermain dan postur yang mirip. Meskipun secara prestasi jauh dari Lev Yashin, Beara adalah salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki Yugoslavia.

Ketika Beara masuk sebagai pelatih Kamerun pada 1974, Beara melihat dua potensi dan masalah dalam persaingan Bell-N’Kono. Namun ia juga sadar, keduanya harus diperlakukan sama untuk menciptakan persaingan yang sehat di Timnas.

Beara memiliki program Latihan di Timnas yang sangat rutin dan berat, setidaknya, sebulan sekali ia menyiapkan kamp pelatihan untuk menggembleng pemainnya. Tidak terkecuali Bell dan N’Kono, keduanya memiliki program yang sangat jelas, nan melelahkan.

Handling, menjadi perhatian khusus Beara, menurutnya dasar pondasi seorang penjaga gawang adalah penempatan posisi, timing dan handling. N’Kono dan Bell menyambut positif dan menyebut adanya dampak positif dari program tersebut.

Namun, program yang menjemukkan mulai membuat Bell goyah, dalam suatu kamp Latihan digelar Beara. Bell yang baru saja memperkuat Africa Sport hari Senin, harus memulai Latihan Bersama di hari Rabu, Bell menolak datang, akhirnya Beara tidak memanggilnya dalam 2-3 kamp Latihan.

Hal ini , membuat Bell sadar atas otoritas seorang Beara dalam memimpin, karena tingkahnya itu, akhirnya Bell menjadi penjaga gawang kedua di Timnas dan kalah dari N’Kono.

Sedangkan sejak mendapatkan Latihan Beara, N’Kono memiliki cara provokatif di bawah mistar, penyelamatannya seringkali membuat lawan mental drop, ia akan bergerak seolah bola yang mengarah ke gawangnya adalah bola yang mudah untuk diantisipasi. Ini adalah salah satu trik dari Beara Ketika aktif bermain.

Piala Dunia 1982, menjadi titik pembuktian keduanya, N’Kono menjadi pilihan utama sedangkan Bell harus menunggu di bangku cadangan. Reflek luar biasa N’Kono membuatnya sempat dilirik oleh Fluminense dan Flamengo, sebelum akhirnya Espanyol merekrutnya tepat setelah Piala Dunia.

Ketika Piala Afrika bergulir 2 tahun setelahnya, N’Kono sejatinya merupakan pilihan utama, namun, setelah dua pertandingan, dirinya dipanggil Kembali ke Espanyol. Bell muncul menunjukkan kualitasnya dan membawa Kamerun menjadi juara Piala Afrika.

Di Piala Dunia 1990, N’Kono Kembali menjadi pilihan utama, bahkan Bell menjadi pilihan ketiga di bawah Sango’o, pelatih Kamerun saat itu, Valeri Nepomniachi menganggap bahwa Bell kalah bersaing dengan dua penjaga gawang tersebut, karena secara permainan keduanya lebih tepat untuk timnas.

Sedangkan pada Piala Dunia 1990, Kamerun mencuri perhatian dengan mengalahkan Argentina yang diperkuat Maradona, dan melaju hingga babak 16 besar sebelum dikalahkan Inggris di babak Perempat Final.

Momentum bagi Bell datang di Piala Dunia 1994, ia menjadi penjaga gawang utama Kamerun, dalam event yang digelar di Amerika Serikat tersebut, Kamerun gagal berbicara banyak, dan Bell yang berusia 40 tahun gagal membawa negaranya berprestasi. Bell kemudian memutuskan pensiun persis setelah gelaran Piala Dunia, setelah rumahnya dibakar  sekelompok orang tak dikenal.

Menanggapi persaingan N’Kono dan Bell, keduanya memiliki kesan serupa. N’Kono menyebut dirinya bisa berkembang jauh karena adanya persaingan di bawah mistar dengan Bell.

“Ketika saya menjadi cadangan di Douala, dia sudah menjadi kiper utama di Yaounde, saya selalu melihatnya (Bell) dan membantu saya mengembangkan permainan,” ujal N’Kono.

Sedangkan Bell lebih spesifik, menurutnya, keterbatasan di timnas Kamerun, membuat mereka saling membantu satu sama lain dalam mencari kelemahan dan memperbaikinya.

“Perbedaan kami dimulai sejak awal,”

“Dia datang ke sebuah tim dan tidak tahu bahwa dia akan menjadi penjaga gawang. Dia bermain karena kebutuhan tim, sedangkan saya bermain dari awal mengetahui pos penjaga gawang adalah tujuan saya, maka dari itu saya menganalisis kekurangan saya dan melakukan perbaikan,” ujar Bell.

“Ketika di timnas, saya melihat dia (N’Kono) memiliki kelemahan di sisi kanan, dan kurang nyaman mengalirkan bola, dan saya mengajarinya untuk berani menggunakan kaki uneuk mengalirkan bola atau melakukan penyelamatan. Ketiadaan pelatih kiper di Timnas Kamerun juga membuat kami akhirnya berlatih secara intensif berdua,” tutup Bell.

Jean Manga-Onguene, pesepakbola terbaik Afrika 1980 sekaligus pemain timnas Kamerun menggarisbawahi, bagaimana keduanya memiliki cara dan pendekatan berbeda.

“N’Kono memiliki bakat alami, bermain di manapun tidak akan menjadi masalah baginya, sedangkan Bell adalah sosok yang analitik, ia terus belajar mencapai poin tertentu untuk mengembangkan permainannya.”

Namun, Bell merasa kurang dihargai karena gaya permainannya, karena minimnya melakukan penyelamatan dan jarang melakukan aksi spektakuler di bawah mistar.

“Penjaga gawang terbaik, tidak perlu melakukan banyak penyelamatan, maka dari itu saya lebih nyaman menjaga jarak dekat dengan pemain belakang, dan memotong bola sebelum lawan memiliki peluang melakukan tendangan ke gawang,” ujar Bell.

Ya Bell memang terkenal karena kemampuannya mengkoordinasi lini belakang dan menjaga posisi, sedangkan N’Kono lebih nyaman berada di bawah mistar dan melakukan penyelamatan secara efektif.

Dengan gaya berbeda, keduanya memiliki warisan terbaiknya masing-masin. Bell mencontohkan bagaimana sweeper-keeper secara teoritis. Hal ini kemudian menginspirasi penjaga gawang Ajax Amsterdam, Andre Onana, yang menyebut kemampuannya membangun serangan dilatihnya dengan mengikuti apa yang dilakukan Bell.

Sedangkan N’Kono memberikan warisan untuk penjaga gawang Espanyol asal Kamerun, Carlos Kameni. N’Kono juga menjadi sosok yang menginspirasi Buffon di bawah mistar, sebagai bentuk penghormatan, Buffon menamai anaknya, Louis Thomas, menggunakan nama Thomas untuk menghargai N’Kono.

Ketika juga masuk sebagai penjaga gawang terbaik Afrika sepanjang masa versi IFFHS, namun berbeda dengan yang terjadi di Timnas, N’Kono berada di peringkat kedua, sedangkan Bell menjadi kiper terbaik afrika sepanjang masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image