Tomas Felipe Carlovich, Mitos Sepakbola Argentina

Tomas Felipe Carlovich, Mitos Sepakbola Argentina

Raja Minos dari Kreta menugaskan Daedalus, seorang arsitek ulung dari kota Athena, untuk membangun labirin yang mengurung Minotaur. Akan tetapi, karena dianggap membantu Theseus, Raja Athena sekaligus musuh Raja Minos, membunuh Minotaur, maka Daedalus dan anaknya, Icarus, dipenjara dalam labirin buatannya sendiri.

Mengamati burung-burung di luar jendela mereka, Daedalus terinspirasi membuat sayap untuk dirinya dan putranya menggunakan bulu burung dan lilin. Terbang bebas dari labirin tersebut, Daedalus memperingatkan Icarus jangan terbang terlalu tinggi atau terlalu dekat dengan laut, dan untuk selalu mengikuti arah Daedalus.

Icarus kemudian terjatuh karena terbang terlalu dekat dengan matahari, sayap buatan Icarus meleleh dan membuatnya jatuh dan tenggelam di laut.

Apa yang terjadi pada Icarus adalah sebuah mitos dan legenda Yunani, namun pada 1976, Tomas Felipe Carlovich, mengalami hal serupa yang membuatnya tidak pernah memperkuat Timnas Argentina.

Pelatih Argentina saat itu, Cesar Luis Menotti memutuskan memanggil Carlovich untuk masuk dalam skuat jelang Piala Dunia 1978. Namun Carlovich urung hadir, diketahui kemudian adalah, Carlovich sedang memancing dan Ketika memutuskan Kembali, arus kencang membuatnya sulit Kembali ke darat. 

Carlovich punya banyak julukan, El Trinche atau sang garpu adalah salah satu yang terkenal. Ia adalah sosok mitos dalam sepak bola Argentina. Lebih banyak bermain untuk Rosario dan Central Cordoba, banyak prestasi ditorehkannya. Namun tidak ada satupun yang memiliki rekaman video atau dokumentasi gambar mengenai cara bermainnya.

Thomas Carlovich lahir pada tahun 1948 dari pasangan imigran Yugoslavia. Tren urbanisasi yang cepat pada tahun 1920-an, membuat Carlovich sangat terbiasa bermain sepak bola di jalanan.

Era itu, Pueba (anak-anak) yang bermain di potreros (tanah kosong); yang mempelajari teknik dan keseimbangan pada permukaan keras yang tidak rata, membuat mereka mengembangkan keterampilan dan kecerdikan jalanan untuk melindungi bola dan diri mereka sendiri dalam permainan keras, tanpa aturan dan tanpa pengawasan.

Carlovich kemudian bergabung dengan tim junior Rosario Central pada usia 15 tahun, berposisi sebagai gelandang, di usia 20 tahun, ia kemudian promosi ke tim utama dan bermain 2 kali sebelum pada pertandingan ketiga, Carlovich yang telah menunggu di bus selama 10 menit, memutuskan turun dan pulang ke rumah, sejak itu ia tidak pernah Kembali bermain untuk Rosario Central.

“Dia adalah pemain yang sangat fenomenal,” kata Griguol, pelatih Central saat itu, “tapi dia tidak suka berkorban, jadi dia tidak berhasil bermain dengan saya di Central dan lebih suka pergi berburu atau memancing. Dia memiliki kemampuan teknis yang unik. “

Hingga saat ini tidak ada yang pernah memahami alasan Carlovich. Apakah dia bosan, atau apakah tekanan yang diterimanya sebagai pemain professional? Apakah bahkan kerinduan yang mendalam yang membuatnya tidak mampu berpikir untuk meninggalkan Rosario? 

Carlovich akhirnya bergabung dengan klub lain di kota asalnya, Central Cordoba, di mana dia memainkan total 236 pertandingan dalam empat periode terpisah, Carlovich membuat Cordoba dua kali mendapatkan promosi dari divisi tiga ke divisi kedua. 

“Banyak hal telah dikatakan tentang saya,” ujar Carlovich, “tetapi kenyataannya adalah bahwa saya tidak pernah suka berada jauh dari barrio (keluarga) saya, rumah orang tua saya, bar yang biasa saya kunjungi, teman-teman saya, dan ‘El Vasco’ Artola, yang mengajari saya cara menendang bola ketika saya masih kecil. ” jelas Carlovich.

Carlovich juga sangat pemalu sehingga dia lebih suka berganti pakaian di Gudang peralatan daripada di ruang ganti bersama rekan satu timnya, ia berusaha menyembunyikan diri dan tertutup. Namun, dengan talenta yang sehebat dirinya, tidak ada yang bisa bersembunyi.

Pada 1974, sebagai bagian dari uji coba jelang Piala Dunia 1974, Argentina melakukan uji coba menghadapi Rosario XI. Rosario saat itu dilatih oleh Carlos Griguol. Tujuan uji coba ini juga merupakan amal untuk para jurnalis.

Carlovich saat itu terkenal dengan kemampuannya melakukan double nutmeg, sebelum akhirnya membuat lawan terjatuh dengan trik tersebut. Ia lakukan hal tersebut di divisi dua dan tiga Argentina, namun menghadapi Timnas argentina, tentu bukan hal bijak untuk pamer kehebatan tersebut.

15 menit pertandingan berjalan, bola tepat datang ke kaki Carlovich, Pancho Sa, salah satu pemain bertahan yang dikenal tegas dan lugas dalam sejarah Copa Libertadores, menutup pergerakannya. Carlovich mengolonginya ke depan, penonton yang mengetahui kebiasannya, bersorak, tidak dengan Sa yang tetap mengejarnya, Ketika Carlovich mengolongi Sa kedua kalinya, stadion meledak dengan sorakan keras.

Hingga turun minum, skor 3-0 untuk keunggulan Rosario XI, komentator di radio LT8, menggambarkan apa yang dilakukan Carlovich sebagai “the dance of Rosarinos”, Argentina kemudian mencetak satu gol untuk memperkecil kekalahan menjadi 3-1.

Alasan Carlovich melakukan nutmeg adalah direktur klub Cordoba akan memberinya bonus untuk satu kali nutmeg, dan menggandakan bonus jika lawan bisa tertipu olehnya kedua kali. Jadilah double nutmeg menjadi signature moves miliknya.

Pada tahun 1976, Carlovich bergabung dengan Independiente Rivadavia di Mendoza, 500 mil ke barat Rosario. Dia membencinya. Pada suatu laga, dia pernah sengaja mendapatkan kartu merah sebelum turun minum sehingga dia bisa naik bus kembali ke Rosario tepat waktu untuk Hari Ibu. 

Pada kesempatan lain, dia dan dua rekan setimnya memegang bola selama beberapa menit, mengopernya satu sama lain di bawah naungan beberapa pohon, hingga wasit menghentikan pertandingan dan menyuruh mereka bermain dengan baik. Dia menyukai permainan itu, tapi dia benci disiplin. Lebih dari segalanya, Carlovich hanya ingin bersenang-senang.

Cesar Luis Menotti mencoba memanggilnya ke tim nasional pada tahun 1976. “Sungguh menyenangkan menyaksikan Carlovich bermain, dia memiliki begitu banyak kemampuan dalam menguasai bola,” katanya kepada Movistar +. 

“Saya memilihnya untuk tim nasional, tapi dia tidak muncul. Saya tidak ingat apakah dia pergi memancing atau berada di sebuah pulau tetapi alasannya adalah dia tidak bisa kembali karena permukaan sungai terlalu tinggi. ”

Bahkan Marcelo Bielsa, Ketika masih aktif bermain sangat mengidolai Carlovich dan cara bermainnya, tentu saja lengkap dengan gaya rambutnya. Namun usai posisi Bielsa dipindah menjadi pemain belakang, cara bermainnya berubah.

Carlovich pensiun pada tahun 1983, kembali, dan pensiun lagi pada tahun 1986. Dia terus bermain dalam permainan khas jalanannya, ia memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang batu, inilah yang mengakibatkan dirinya mengidap osteoprosis.

Dua pertandingan eksibisi diatur untuk membantu membayar pengobatan Carlovich. Penonton  kembali menyanyikan namanya dan kemudian seorang jurnalis bertanya apakah ada sesuatu yang akan dia ubah dalam karirnya, apa pun yang akan dia lakukan secara berbeda.

“Tidak,” katanya, suaranya bergetar. Tidak, jangan tanya saya itu. Dia menggigit bibir bawahnya. “Tidak bukan itu.” Kemudian air mata jatuh dari matanya. Tidak ada yang menyadari sebelumnya bahwa dia merasa menyesal, bahwa dia bertanya-tanya apa yang mungkin dia lakukan. Semangat pibe sebagai seorang anak-anak membawa kebebasan besar, tetapi ada harga yang harus dibayar.

Ketika Maradona, kembali dari larangan narkoba pertamanya, dan setelah gagal bersama Sevilla, bergabung dengan Newell’s pada tahun 1993, dia disambut sebagai pemain terbaik di dunia, Maradona menyanggahnya.

“Yang terbaik,” katanya, “sudah bermain di sini.” Ujar Maradona untuk menunjukkan sosok Carlovich.

Penulis Alejandro Caravario, dalam sebuah buku tentang Carlovich menggambarkannya sebagai berikut: “El Trinche adalah ekspresi sepakbola Argentina yang paling lengkap. Seorang pria yang tidak menerima aturan tidak tertarik pada mereka. “

“Carlovich tetap menjadi antitesis Leo Messi (jenius kaki kiri yang muncul dari Rosario) – ketenaran dan yang terbaik dalam karirnya tetap di Santa Fe dan karena itu dia dipuja. Salah satu pemain liris, hampir puitis yang sudah tidak ada lagi, “tulis Guillem Balague dalam biografi resmi Messi.

Carlovich, yang telah hidup sebagai ikon lokal di Rosario sepanjang hidupnya, meninggal duia usai diserang oleh seorang pemuda dan sepedanya dirampok. Dia menderita luka di kepala dalam serangan itu dan mengalami koma yang tidak kunjung sembuh. Ia menghembuskan nafas terkahirnya pada 8 Mei 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image