Kejutan Lille, Kisah Si Anjing Besar dan Kakek Tua dari Turki

Kejutan Lille, Kisah Si Anjing Besar dan Kakek Tua dari Turki

Lille, adalah sebuah kota kecil 1 jam dari Ibukota Prancis, Paris, Kota ini kerap dianggap sebagai lokasi transit untuk perjalanan dari Paris ke Brussels (Belgia). Hal ini yang membuat Kota ini hanya dianggap sebelah mata di Prancis.

Dari segi budaya dan sejarah, Lille merupakan daerah yang kental dengan unsur Flemish, tidak heran daerah ini banyak orang fasih berbahasa Belanda. Perbedaan budaya dan bahasa dengan Prancis, membuat Lille dianggap sebelah mata dan bahkan hanya dianggap kota kecil yang semenjana.

Lille Olympique Sporting Club, juga memiliki kisah serupa. Julukan mereka, Les Dogues atau si Anjing besar, julukan ini diberikan sejak kemenangan mereka atas Paris FC di medio 30-an. Daya juang yang mereka tawarkan sebagai tim kurcaci, membuat mereka menang di Parc des Princes.

Lille, bukanlah tim besar, masalah finansial adalah yang harus mereka hadapi sepanjang musim.

Namun, Lille, tidak terpengaruh dengan kesulitan yang mereka hadapi. Meskipun bukanlah tim langganan juara, namun Lille tetap diperhitungkan, di Ligue 1, mereka adalah kuda hitam dengan segudang talenta terbuang yang dipoles Kembali.

Masih segar se-dekade lalu, ada striker buangan dari AC Milan yang dianggap tidak bertaji, bernama Aubameyang. Namanya berkibar di Lille hingga akhirnya Borussia Dortmund merekrutnya.

Atau Ketika Lille juara Ligue 1 secara mengejutkan pada 2010-2011, Ketika itu ada nama nama potensial seperti Idrissa Gueye, Adil Rami, Yohan Cabaye, Mousa Sow, Debuchy, Eden Hazard hingga Gervinho, bekerja sama dengan nama-nama yang ‘terbuang’ seperti Davin Rozenhal, Mickael Landerau, Rio Mavuba, Pierre-Alain Frau hingga Tulio de Melo.

Satu dekade setelahnya, Lille sangat berpeluang mengulang Kembali sejarah yang sama. Bermodalkan nama-nama besar yang terbuang, dipadukan dengan kolektivitas tim. Lille kini sukses bertengger di puncak Klasemen Ligue 1. 

Lille hanya butuh satu kali kemenangan dan satu kali hasil imbang untuk meraih juara musim ini. Sekaligus mengerdilkan tim bertabur bintang seperti Paris Saint-Germain, atau tim-tim konservatif Ligue 1 seperti Lyon atau Marsille.

Padahal musim ini, Jose Fonte dan kawan-kawan memulai musim dengan cukup sulit, masalah finansial yang terjadi dan juga kehilangan pemain bintang, memaksa Christophe Galtier, memutar otak cukup kencang dan bijaksana di awal bursa transfer.

Dampak pandemi dan Krisis finansial

Ketika pandemi menghantam Dunia, semua bisnis memiliki dampak, termasuk Ligue 1, mereka dihajar habis-habisan dari berbagai sisi, kolapsnya Kerjasama dengan Mediapro sebagai broadcaster, membuat liga memiliki hutang dan tidak bisa membayar subsidi untuk tim-tim Ligue 1.

Pemiliki mayoritas Lille, asal Luxembourg, Gerard Lopez, terpaksa harus menjual sahamnya usai kreditnya sebesar 200 Juta Poundsterling kepada Elliot Group dan Bank J.P. Morgan, gagal dilunasi sejak 2018, akhirnya dalam bentuk transisi, Gabriel Lopez melepas sahamnya kepada mediator Direction Nationale du Controle de Gestion (DNCG), Lembaga milik pemerintah sebagau penengah masalah finansial di Prancis. Transis kepemilikan terus terus terjadi mulai dari Kalisto Holding SARL di Southampton akhirnya diakusisi oleh Elliot Group pada tahun 2018, bahkan sempat terjadi Elliot derby Ketika AC Milan berhadapan dengan Lille di Europa League. Hingga akhirnya Merlyn Partners SCSp, holding asal Luxembourg menjadi pemilik Lille pada Desember 2020.

Masalah tidak selesai di situ, Luis Campos, selaku direktur olahraga, mengundurkan diri usai selalu bersitegang denganMarc Ingla, orang kepercayaan Gerard lopez dan juga mantan direktur tim Barcelona.

Padahal, Luis Ocampos adalah nama yang termahsyur usai membawa Monaco secara mengejutkan ke Semifinal Champions League 4 tahun sebelumnya, sekaligus membawa Mbappe bersinar di PSG.

Beruntung, sosok Christophe Galtier adalah sosok bertangan ceradas nan dingin. Ia sukses menyelamatkan Lille dari degradasi pada musim 2017-2018. Saat itu, masalah finansial membuat mereka dalam ancaman degradasi, Bielsa akhirnya dipecat dan digantikan Galtier. 

Galtier bekerjasama dengan apik dengan Luis Ocampos, mereka mengoptimalkan sejumlah pemain berbakat seperti Rafael Leao, Nicolas Pepe, Jonathan Bamba, dipadukan dengan pemain senior seperti Thiago Mendes, Jonathan Ikone hingga Loic Remy, musim 2018-2019, mereka sukses menempati posisi dua klasemen akhir Ligue 1.

Masalah finansial yang mereka hadapi berujung kepada penjualan sejumlah pemain bintang pada musim berikutnya. Gerbong pemain kunci Lille dilepas, mulai dari Nicholas Pepe, Rafael Leao, Thiago Mendes, hingga Youssouf Kone, untuk membantu Lille memenuhi aturan Financial Fair Play.

Lille kemudian mendatangkan nama-nama minim nama besar namun berpotensi, Kembali lagi, di sini peran besar Luis Ocampos dalam mengendus bakat, Victor Osimhen, Renato Sanches, Timothy Weah, dan Yusuf Yazic didatangkan. 

Nama yang direkrut oleh Ocampos, adalah nama-nama yang sangat membutuhkan pengakuan, Renato Sanches dianggap gagal di Bayern Munchen, sedangkan Timothy Weah, baru menapaki karirnya di Eropa. Selain itu ada nama Jose Fonte yang dianggap telah habis di Southampton.

Musim 2019-2020 ditutup dengan meraih posisi ke-4 klasemen akhir, penurunan prestasi dari musim lalu, ditambah Ocampos memutuskan hengkang usai bersitegang dengan Marc Ingla, alasannya lainnya adalah transisi kepemilikan yang membuat Ocampos kehilangan kekuatannya.

Namun, sebelum memutuskan hengkang, Ocampos memberikan kado terakhir kepada Lille.

Kakek Tua dari Turki

Persiapan musim 2020-2021 juga tidak mulus bagi Lille. Menyeimbangkan finansial adalah prioritas, hingga akhirnya mereka Kembali harus melepas beberapa pemain bintang seperti Victor Oshimen yang merupakan top skor klub musim sebelumnya ke Napoli, dan juga bek Tangguh asal Brasil, Gabriel yang hengkang ke Arsenal.

Sebagai gantinya, nama-nama muda yang belum terendus didatangkan, mulai dari Jonathan David, Sven Botman hingga Angel Gomes didatangkan. Tidak selesai di situ, Galtier juga mendatangkan kakek tua asal Turki, Burak Yilmaz.

Pemain asal Turki ini mungkin hanya memiliki 15 gol tapi gol-golnya sangat vital seperti ketika melawan Montpellier dan Nimes. Sejak jeda internasional terakhir dia mencetak enam gol dalam enam pertandingan, serta satu assis. 

Yilmaz adalah bukti bagaimana Ocampos menghidupkan Kembali nama-nama senior yang dianggap telah habis, di Monaco, ia pernah mendatangkan Berbatov yang berusia 36 tahun saat itu. Tujuannya adalah memberi mentor kepada pemain muda, saat itu Berbatov adalah mentor yang tepat bagi Mbappe dan Yilmaz yang berusia 35 tahun adalah sosok sempurna untuk mengajari Jonathan David.

Selain rekrutmen tepat, taktik Galtier adalah sesuatu yang harus disorot.

Skema 4-4-2 Galtier kerap menipu, serangan mereka tidak bertumpu ke sayap atau ke tengah. Half space adalah yang menjadi kekuatan Lille di bawah Galtier. Secara defensive tujuannya untuk mencegah lawan memanfaatkan lebar lapangan, dan secara serangan, mempermudah Lille melakukan penetrasi ke tengah.

Formasi Lille, lebih mirip dengan 3-1-6, satu pivot akan turun meminta bola dari Jose Fonte atau Sven Botman. Taktik ini menjebak, dan laga melawan Lyon, Galtier menunjukkan betapa bahayanya serangan halfspace mereka.

Lille sadar, keunggulan lini tengah Lyon yang diisi lucas Paqueta, Caqueret dan Thiago Mendes. Pun dengan lini Lyon yang diisi Memphis Depay dan Islam Slijmani. Tetapi karakter kuat Lille dalam halfspace mematikan Lyon.

Tertinggal dua kali, daya juang Lille untuk menekan pertahanan Lyon secara repetitive sukses membuat lini tengah Lyon kesulitan menjaga pemain dan mengembangkan permainan. Lucas Paqueta melakukan blunder di gol kedua Lille dan Memphis Depay, nyaris tidak bisa berbuat banyak untuk mengreasikan peluang.

Dan Kakek tua Turki beraksi, segudang pengalamnnya terbutki vital, dua gol satu asis dikemasnya dalam laga menghadapi Lyon. Sepakan bebasnya di menit 45 mengispirasi comeback sempurna Lille. Gesturnya usai mencetak gol yang memperkecil kedudukan saat itu, membuktikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan oleh Lille, dan skor 2-3 membawa Lille kukuh di puncak klasemen.

Lille masih harus menyelesaikan dua laga sisa, jika sukses menyapu bersih dengan kemenangan, atau PSG terpeleset satu kali diantara dua laga sisa, maka Lille akan mengulang dua sejarah sekaligus : Menjadi juara Ligue 1 seperti sedekade lalu, dan juga menjungkalkan tim asal Paris yang akan mengukuhkan definisi Les Dogues.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image