Dialektika Harry Kane Bersama Tottenham

Dialektika Harry Kane Bersama Tottenham

Dialektika : segala sesuatu yang terdapat di alam semesta itu terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal dan yang menimbulkan hal lain lagi, (G.W.F. Hegel).

Menjelang akhir musim, bursa transfer mulai menggeliat, klub-klub mulai berbenah menambal sulam dari evaluasi pencapaian. Bagi klub-klub papan atas, penting bagi mereka untuk terus berbenah, guna mencapai target mereka musim depan, baik menjadi juara, atau hanya lolos ke zona Eropa.

Langkah yang sama juga dilakukan pemain, melakukan negosiasi kontrak meminta kenaikan gaji dan bonus, atau perpanjangan kontrak baru, untuk menambah masa bakti sang pemain di klub. Baik karena kesesuaian taktik antara pemain dan tim, atau sebatas kebutuhan finansial yang dibutuhkan oleh pemain.

Namun, muncul pertentangan atau kontradiksi, Ketika klub membutuhkan jasa sang pemain, karena performa apiknya, namun justru sang pemain enggan bertahan dengan berbagai alasan. Mulai dari nilai kontrak, atau prestasi klub yang dianggap tidak sesuai dengan perjuangan sang pemain di tengah lapangan.

Situasi ini, kemudian ditambah dengan tesis dan antithesis baik dari pemain dan klub. Kedua kubu nampak saling membutuhkan, namun di saat yang sama, juga berkeinginan untuk berpisah dan mencari fase baru.

Harry Kane sedang dalam persimpangan tersebut, secara terbuka, ia mengumumkan keinginannya untuk hengkang dari Tottenham Hotspur. Namun disaat yang sama, pihak klub juga masih membutuhkan jasanya.

Di pihak Tottenham, Harry Kane adalah pemain penting dan figure utama dalam tim. Deputi Kapten dijabatnya, top skor klub kedua sepanjang masa dan juga top skor klub 6 musim berturut-turut. Tetapi, segala keunggulan jasa Harry Kane tidak serta merta tak tergantikan, Daniel Levy selaku Presiden Klub, dengan senang hati menjual Kane ke klub yang bisa menebusnya sesuai permintaan klub.

Di akhir musim, kontrak Harry Kane hanya menyisakan 3 musim lagi. Sang pemain secara terbuka menyatakan ‘kemungkinan’ untuk hengkang dalam wawancaranya Bersama Gary Neville di Sky Bet.

“Saya tidak tahu, maksud saya dia (Levy) mungkin ingin menjual saya,” kata Kane dalam wawancara dengan Gary Neville untuk The Overlap dari SkyBet. 

“Dia mungkin berpikir, ‘Jika saya bisa mendapatkan 100 juta Poundsterling untuk Anda, lalu mengapa tidak?’ Apakah Anda tahu apa yang saya maksud? Saya tidak akan sepadan dengan itu selama dua atau tiga tahun ke depan. “

Meskipun Kane sudah menentukan langkahnya untuk hengkang musim ini, namun tentu langkah tersebut masih sangat panjang untuk Harry Kane dan Tottenham.

Daniel Levy adalah sosok yang sangat sulit untuk diajak negosiasi. Sejak awal, dirinya bukanlah pria yang mudah diluluhkan oleh uang besar, negosiasi panjang hingga ditutupnya bursa transfer adalah caranya. Ia juga tidak ragu kehilangan sejumlah pemain bintang, asalkan mendapatkan dana segar sesuai yang diinginkannya.

Manchester United, Manchester City dan Chelsea sudah mengendus keinginan Kane dan dikabarkan sudah menyiapkan sejumlah dana segar, untuk memboyong sang pemain hengkang dari White Hart Lane.

Namun, Levy menegaskan tidak akan menjual Kane di bursa transfer musim ini, atau setelah Euro 2020. Keputusan ini membuat klub-klub peminat tentu gigit jari.

Apa yang dilakukan Levy dengan menahan penjualan Harry Kane adalah dua sisi mata pisau baginya dan Tottenham.

Di satu sisi merupakan salah langkah strategis jika menjual sang pemain, dana segar tentu bisa menambah pundi-pundi kas klub untuk terus bisa bersaing di 6 besar.

Penjualan Harry Kane juga bisa membantu Spurs untuk membangun skuat yang sudah mulai kadaluarsa, tidak bisa dipungkiri, prestasi mereka finish di posisi 6 klasemen tentu membuat Levy sadar untuk melakukan perubahan besar-besaran dari sisi skuat, dan juga sisi Manajerial. Ryan Mason mungkin memiliki peluang sangat kecil untuk bisa menjadi Manajer tetap.

Ditambah lagi juga bisa menjadi stimulus untuk mendatangkan Manajer papan atas seperti Allegri yang dikait-kaitkan bergabung Bersama tim London Utara.

Tetapi, penjualan Kane bisa menjadi titik akhir dari karir Daniel Levy di Tottenham, tagar #LevyOut sudah dikumandangkan oleh supporter The Lilywhites, dimulai dari buruknya prestasi klub musim ini, kemudian bergabungnya Tottenham ke European Super League, adalah alasan tekanan supporter untuk Daniel Levy agar mundur dari jabatan semakin menguat.

Belum lagi pemecatan Jose Mourinho hanya 2 hari sebelum Final Carabao Cup yang dipertanyakan oleh supporter, dan penunjukkan premature Ryan Mason sebagai caretaker, tentu bukan jawaban yang diinginkan.

Apa yang harus diputuskan Levy saat ini, adalah apakah uang yang diperoleh dari penjualan Kane dapat mendanai pembangunan kembali skuad yang kadaluarsa, Ini adalah sebuah langkah untuk membuat kolektifitas tim lebih kuat. Namun, bagaimana dengan para pendukung yang kadung mencintai Kane?

Pertanyaan ini, bukan pertanyaan retoris yang mudah untuk dijawab, terutama karena menjual Kane dari tim ini berarti kehilangan kepemimpinan dan ketajamannya. Toh, perpanjangan kontrak yang ditandatangani Kane selama 6 musim pada tahun 2018, adalah murni keputusan sang striker tanpa desakan Daniel Levy, menunjukkan loyalitas yang sangat membekas di supporter.

Penjualan Kane juga tidak menjamin bahwa Spurs akan mendapatkan pemain dengan kemampuan sepadan, ditambah dengan adanya Virus Corona, membuat harga pemain semakin fluktuatif. Ketika mereka menjual Gareth Bale ke Real Madrid pada 2013 seharga 86 juta Poundsterling, Spurs kemudian menggelontorkan dana belanja besar-besaran pada bursa transfer musim panas tersebut, namun, hanya satu dari tujuh pemain sesuai ekspektasi, yaitu Christian Eriksen.

Di sisi Harry Kane, Ia yakin bahwa dia memiliki kesepakatan dengan Levy dari musim panas lalu ketika dia sedang mempertimbangkan masa depannya; jika dia tetap tinggal dan memberikan segalanya di bawah Mourinho, Levy akan mengizinkannya pergi kali ini.

Ini bukan hal baru bagi Spurs dan Daniel Levy, Luka Modric mengklaim pada 2011 telah mencapai kesepakatan 12 bulan sebelumnya dengan Levy bahwa, jika dia menandatangani kontrak baru, dia akan diizinkan pindah jika “klub yang lebih besar datang dengan tawaran konkret”. Chelsea kemudian menyodorkan tawaran besar, tetapi Levy menolak untuk menjual. Modric kemudian tinggal selama satu musim lagi sebelum dia pergi ke Real Madrid pada 2012.

Levy sering dikritik karena gagal mengoptimalkan penjualan pemain dan bernegosiasi untuk kontrak baru, sehingga membuat negosiasi a lot dan berujung melepas pemain dengan gratis di akhir kontrak mereka. 

Tetapi dengan Kane, ini bukan hanya masalah nominal transfer, apalagi dengan duo Manchester yang siap menggelontorkan dana lebih dari 100 Juta Pounsterling.

 Levy tentu masih akan memainkan permainan lamanya dengan mengulur negosiasi dengan klub peminat, sembari menunggu Harry Kane menerima tawaran perpanjangan kontrak untuk menjaga stabilitas tim.

Namun, Kane telah memutuskan secara tegas langkahnya. Apa yang dilakukan Kane adalah dialektika dari berbagai macam tesis dan antithesis dalam tubuh Tottenham. Gelar juara tentu diidamkan oleh penyerang berusia 28 tahun ini, dan dialektika adalah satu-satunya cara bagi Kane untuk mengakhiri masa baktinya bersama Spurs demi satu tujuan : meraih gelar juara.

Dialektika selalu menghasilkan pesakitan, dan dalam hal ini, Daniel Levy dalam posisi terpojok dan kesulitan dalam mengambil keputusan. Bak Menteri yang berhadapan dengan Kuda dalam permainan catur, Levy kini tersudut, namun Kane juga tidak bisa lengah, karena Levy bisa memainkan perannya dan membuat Kane bertahan setidaknya satu musim lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image