Tidak Ada Kritik untuk Jordan Pickford di Euro 2020

Tidak Ada Kritik untuk Jordan Pickford di Euro 2020

Italia tersenyum lebar, mereka hanya butuh satu eksekusi sukses untuk membawa gelar juara Euro 2020. Sebaliknya, Inggris menghadapi mimpi buruk mereka, keadaan tidak lebih baik ketika yang maju sebagai eksekutor adalah nama yang sangat ditakuti sebagai penendang : Jorginho.

Catatan Jorginho sangat impresif kalau tidak bisa disebut luar biasa, gelandang Chelsea ini hanya gagal 5 kali gagal dalam 40 kesempatan penalti yang didapatkannya.

“No Problem Mate, No Problem,” suara itu cukup keras untuk terdengar dari Jordan Pickford, kiper Inggris yang mengahdapi penalti tersebut.

Dan eksekusi Jorginho sangat sempurna, hop, skip and jump andalannya tidak berubah, arah bola pun juga nampak sulit ditebak, semua pendukung Italia yakin, eksekusi ini akan mengakhiri pelawanan Inggris.

Tetapi tidak untuk Pickford, ia tidak bergerak hingga detik paripurna, dan bola Jorginho bisa dihentikan dengan sangat meyakinkan. Nafas Inggris bertambah panjang untuk menjadi Juara Euro 2020.

Tentu banyak kalimat pengandaian dari supporter Inggris, cacian hingga hinaan diutarakan dengan tegas oleh para hooligan, berujung rasisme kepada Jadon Sancho, Bukayo Saka dan Marcus Rashford. Tetapi, Jordan Pickford bukan hanya selamat dari kegagalan Inggris di Final Euro 2020, tetapi kisah masa lalu Pickford yang luar biasa justru datang kepadanya.

Di Twitter muncul semacam buku katalog kelulusan St Robert of Newminster Catholic School, di mana Pickford bersekolah, dan tentu saja, layaknya anak muda, Pickford menuliskan sesuatu yang lucu.

Pickford tidak bisa disalahkan atas apapun penampilan Inggris, ia nyaris tak bercela, kecuali salah umpannya dan kegagalan mengantisipasi bola sepakan bebas ketika menghadapi Denmark, tidak ada yang bisa menyalahkan Pickford.

Total, ia hanya kebobolan satu gol sebelum laga Final, pujian diarahkan kepada duo lini belakang yang tangguh, Harry Maguire-John Stones, tetapi Pickford adalah kunci utama lini belakang Inggris.

Setelah menciderai secara parah van Dijk di laga pembuka Premier League, Pickford nampak kesulitan menemukan kestabilan permainan di bawah mistar, tidak heran mengapa kemudian Carlo Ancelotti mendatangkan Robin Olsen sebagai kompetitor. Permainan Pickford jauh dari apa yang ia tampilkan di Piala Dunia 2018.

Hingga di Bulan Januari, penampilan Pickford membaik, perlahan, pilihan utama kembali didapatkannya dari Robin Olsen. Tetapi di Inggris, persaingan tidak mudah bagi kiper berusia 27 tahun ini. Dean Henderson menikmati performa konsisten bersama Manchester United.

Menjelang Euro 2020, Gareth Southgate belum memastikan siapa penjaga gawang utama Inggris di Euro 2020, Pickford dan Dean Henderson masih punya peluang besar menjadi kiper utama.  Hingga secara tegas, Southgate menunjuk Pickford menjadi kiper utama, selang 2 minggu kemudian Dean Henderson harus keluar dari skuad karena cidera.

Perkembangan Jordan Pickford adalah salah satu yang paling impresif di antara semua pemain Inggris di Euro 2020. Bukan tidak menghormati Kieran Trippier yang menjadi bek kanan, atau Bukayo Saka yang sukses mencadangkan Jadon Sancho, hingga bagaimana Harry Maguire menjadi kunci bagi Three Lions membangun serangan. Tetapi Pickford ada di level yang berbeda.

Pickford mengubah hal-hal mendasar selain teknis, ia mengubah caranya mempengaruhi penyerang mengeksekusi, hingga cara dan suaranya dalam mengkoordinasi lini belakang, kemampuan belajarnya yang cepat, membuat Martyn Margetson tidak ragu memilih Pickford di bawah mistar.

Dalam laporan Sky Sports, pelatih kiper Inggris ini menjabarkan keunggulan dan kelemahan tiga kiper utama Inggris yakni Dean Henderson, Jordan Pickford dan Nick Pope.

Secara postur, Pope justru punya peluang sebagai kiper utama, kuda-kudanya tegas, tangannya tepat di tengah dalam mengantisipasi bola, semua kecuali kemampuan distribusi bolanya yang sangat buruk.

Sedangkan Dean Henderson, punya kemampuan prima dalam mengkoordinasi lini belakang, kelincahannya juga menjadi nilai lebih selain distribusi bolanya. Tetapi “K-saves” ala Dean Henderson adalah kekurangan terbesarnya.

Fans United tentu tidak lupa ketika menghadapi Liverpool Dean Henderson sudah menutup celah Salah untuk mencetak gol, namun “K-Saves”-nya membuat bola meluncur di antara kaki kanan dan tangan Henderson sebelum menghujam gawang.

Bagaimana dengan Pickford? Kekurangan terbesarnya adalah tangannya yang asimetris saat melakukan kuda-kuda, dan cukup rendah, ini memang berbahaya bagi seorang kiper, tapi itu bisa diperbaikinya menjelang Euro 2020.

Kelebihan Pickford adalah sisi atletisnya yang luar biasa, jangkauannya yang tidak terlalu panjang sebagai penjaga gawang bisa ditutupi dengan kemampuan atletisnya tersebut. Tidak heran mengingat ia adalah mantan atlet lari dan lompat jauh, ini sangat membantunya.

Selain itu, adalah mentalitasnya di bawah mistar, ia tidak ragu berteriak kepada pemain belakang. Ini kritik terbesarnya kala berseragam Everton, bagaimana Pickford adalah kiper yang pendiam dan terlalu senyap di bawah mistar. Selain itu, Pickford tidak bisa mengelola mimik muka ketika panik atau tertekan di antara penyerang lawan.

Joe Hart sempat dikritik karena terlalu emosional di bawah mistar, tidak ada yang melupakan kejadian Piala Dunia 2014 ketika Hart mengumpat ball boy untuk mengambil bola dan segera memulai permainan. Kritik itu juga dikarenakan permainan Hart yang cinderung tidak stabil.

Ini yang dihindari dari Pickford, secara permainan dan mental keduanya nyaris serupa, namun Pickford berubah sejak Piala Dunia 2018.

Ia lebih tenang, dan sejak laga perdana Euro 2020, Pickford menunjukkan cara yang lebih intimidatif kepada striker dibanding berteriak.

Ketika geladang Ceko, Tomas Holes, melakukan sepakan jarak dekat, Pickford melakukan penyelamatan luar biasa. Tetapi alih-alih berkespresi dan berteriak, Pickford memilih diam dan seolah sudah bisa membaca sepakan lawan, tentu ini akan menyulitkan penyerang karena harus mencari celah yang tepat untuk menjebol gawang Pickford.

Penjaga gawang membutuhkan ketenangan seperti itu, ketika Daamsgard membobol gawang Pickford melalui sepakan bebas, sekali lagi Pickford tetap tenang dan tidak menunjukkan mimik muka kecewa, tertunduk atau marah, ia hanya meminta pemain lain tetap berkonsentrasi dalam laga ini.

Cara ini sering kita lihat di Jan Oblak bersama Atletico Madrid, ketenangannya adalah kunci yang membuat Atleti sangat kokoh di lini belakang dan sulit mencari celah untuk mencetak gol ke gawang Oblak.

Adalah ketenangannya yang membuat Jorginho gagal mengeksekui penalti keenamnya, Pickford bagaikan batu, sebelum eksekusi, tenang, tak bergerak dan berkonsentrasi, ini sangat diperlukan penjaga gawang dalam situasi kritis.

Kemampuan distribusinya adalah contoh lain bagaimana Pickford sangat berperan di taktik Southgate. Pickford adalah kidal, dan tentu sulit baginya menerima bola dengan kaki kanannya. Tetapi sejak 2018, ia mulai terbiasa dengan kaki kanannya.

Dan di Euro 2020, Kaki kanan dan kirinya memiliki kemampuan yang sama apiknya dalam distribusi bola, bagi Southgate ini adalah keuntungan, Inggris meskipun pragmatis, lebih menekankan membangun serangan dari bawah bukan direct ke depan.

Menariknya, Pickford selalu menjadi kiper terpendek di Euro 2020, banyak yang menjuliknya sebagai kiper kerdil termasuk Courtois di Piala Dunia 2018, tingginya “hanya” 183 sentimeter, membuatnya nampak rapuh dalam duel udara. Tetapi Pickford membutkikan bahwa itu bukanlah masalah lewat kemampuan lompatnya yang cukup impresif.

Euro 2020 adalah turnamen para kiper, setelah Donnarumma menjadi pemain terbaik di turnamen 4 tahunan ini, dan rataan penelamatan kiper yang meningkat dibanding 2016, tidak ada alasan untuk kiper tidak mendapatkan gelar pemain terbaik dunia.

Tidak terkecuali Pickford, terlepas dari apapun kritik kepada Timnas Inggris di Euro 2020, tidak ada yang berani mengkritik penampilan kiper Everton ini, kecuali pendukung Liverpool yang masih mengenang van Dijk sebagai bek terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image