Membangun Kembali Katedral Barcelona

Membangun Kembali Katedral Barcelona

Pierre-Emerick Aubameyang terperangah beberapa saat, melihat asisten wasit yang mengangkat bendera, tepat setelah dirinya menaklukkan Courtois dari jarak dekat. Mateo Lahoz di ruang VAR menganalisis posisi Aubameyang, tidak lama setelahnya Juan Martinez Munuera menganulir keputusan awal, dan menghadiahkan satu gol tambahan untuk Barcelona di Santiago Bernabeu.

0-4, bukanlah hasil yang bisa diprediksi, Real Madrid harus menanggung malu di depan publiknya sendiri. Pendukung Real Madrid, bak melihat TKP pembantaian yang memalukan seperti di serial Law and Order. David Alaba dan Eder Militao menjadi korban bersama Courtois yang tidak mampu berbuat banyak untuk mengamankan gawangnya.

Di lorong ganti, Xavi menyambut para pemainnya bak pahlawan, Pedri, Aubameyang, hingga Ousmane Dembele diberikan pelukan. Kemenangan yang jelas punya arti luar biasa bagi Barcelona, kemenangan yang menjaga jarak poin mereka dengan Real Madrid menjadi 12 poin di klasemen.

Memang sangat jauh panggang dari api untuk mengejar gelar juara, tetapi melihat apa yang dilalui Barcelona sejak awal musim. 0-4 dari musuh bebuyutan sekaligus pemuncak klasemen, tentu adalah sesuatu yang layak dikenang.

Kehilangan Lionel Messi, nyaris mengalami kebangkrutan, dan tersingkir di fase grup Liga Champions, adalah kenyataan yang harus diterima oleh Barcelona. Xavi yang dianggap sebagai juru selamat, tetap membutuhkan waktu untuk membangkitkan Barcelona.

Tetapi, menurut Simon Kuper dalam The Barcelona Complex,  Barcelona memang punya semacam siklus dalam prestasi per dua decade. Hal ini tidak lepas dari bagaimana pengelolaan klub internal mereka, dari segi bisnis di balik layar.

Meskipun tidak seketat Athletic Bilbao dalam rekrutmen pemain, tetapi Barcelona secara unit bisnis, punya kebijakan yang sama dengan Athletic Bilbao untuk recruitment karyawan. Di mana, karyawan harus lahir atau setidaknya punya darah Catalan dan terdaftar sebagai Soci. Bahkan karyawan Barcelona juga berasal dari Universitas yang sama.

Lalu, bagaimana dampaknya untuk tim Barcelona?

Di tengah sepakbola yang saat ini sangat kapitalis, uang menjadi hal penting dalam kelangsungan sebuah klub, berbanding terbalik dengan itu, Soci atau Socis dalam bentuk jamak, hanya mementingkan satu hal: harga tiket yang murah untuk supporter. Ini yang terjadi sejak era Enric Reyna, yang memberikan dampak cukup besar dari kebijakan untuk mendatangkan pemain.

Barcelona adalah sebuah klub yang besar, menaungi sepakbola, basket, atletik, handball hingga cricket, semua olahraga tersebut, adalah perwakilan masyarakat Catalan. Maka tidak heran, pola mendatangkan pemain dari akademi adalah hal yang menjadi dasar dan filosofis.

Di era Joseph Bartomeu, arah kebijakan ini berubah, di mana profit menjadi tujuan utama, tidak peduli bagaimana filosofi klub. Bermula dari uang kaget hasil penjualan Neymar ke PSG, bencana di mulai untuk Barcelona.

La Masia mulai terlupakan, peran para Socis di klub mulai tersingkir dengan datangnya para professional yang ditunjuk oleh Bartomeu. Barcelona kehilangan identitas di balik layar, pun dengan di lapangan. Kedatangan Griezmann, Coutinho, Samuel Umititi hingga Clement Lenglet menunjukkan adanya perubahan kebijakan di klub.

Imbasnya, Barcelona hanya bertumpu kepada Lionel Messi, karena tim menjadi disfungsional. Diperparah dengan rutinitas baru berupa pergantian pelatih setiap musim, Barcelona ada di ujung tanduk secara finansial, karena pengeluaran yang jauh lebih besar secara pemasukan, apalagi dengan adanya pandemi, situasi benar-benar tidak menguntungkan bagi Barcelona.

Puncaknya adalah drama di awal musim ini, mereka gagal mempertahankan Lionel Messi yang kontraknya habis, tidak bisa mendatangkan siapapun kecuali secara free transfer. Situasi juga tidak mudah dengan Xavi yang ditunjuk sebagai pelatih kepala juga masih minim pengalaman.

Tetapi, Joan Laporta, secara perlahan mengembalikan apa yang menjadi identitas dari Barcelona, Socis kembali berperan di balik layar, gunanya untuk menjaga stabilitas klub di balik layar. Xavi tidak diberikan beban besar, pemain yang dianggap tidak begitu krusial dipinjamkan atau dilepas. Unit olahraga lain kembali dihidupkan , pemain yang masuk harus benar-benar kebutuhan klub dan mengikuti kebijakan finansial yang ketat.

Musim ini memang bukan menjadi musim yang baik untuk Barcelona, namun dengan pondasi yang sudah ada. Barcelona tentu sudah kembali membangun Katedralnya untuk bisa kembali kokoh musim depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


CAPTCHA Image
Reload Image